Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Kelurahan Curahdami hal ini tergambar dalam pemilihan bupati dan wakil bupati tahun 2008 serta pemilihan-pemilihan lain (pilleg, pilpres, pemillukada, dan pimilugub) yang juga melibatkan warga masyarakat Kelurahan secara umum.

Khusus untuk pemilihan kepala Kelurahan Curahdami sebagaimana tradisi kepala Kelurahan di Jawa, biasanya para peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara trah memiliki hubungan dengan elit kepala Kelurahan yang lama. Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di Kelurahan-Kelurahan bahwa jabatan kepala Kelurahan adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut.

Jabatan kepala Kelurahan merupakan jabatan yang tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak cucu. Mereka dipilh karena kecerdasan, etos kerja, kejujuran dan kedekatannya dengan warga Kelurahan. Kepala Kelurahan bisa diganti sebelum masa jabatannya habis, jika ia melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Begitu pula ia bisa diganti jika ia berhalangan tetap.

Karena demikian, maka setiap orang yang memiliki dan memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam perundangan dan peraturan yang berlaku, bisa mengajukan diri untuk mendaftar menjadi kandidat kepala Kelurahan. Fenomena ini juga terjadi pada pemilihan Kelurahan Curahdami pada tahun 2001 .Pada pilihan kepala Kelurahan ini partisipasi masyarakat sangat tinggi, yakni hampir 95%. Tercatat ada tiga kandidat kepala Kelurahan pada waktu itu yang mengikuti pemilihan kepala Kelurahan. Pilihan kepala Kelurahan bagi warga masyarakat Kelurahan Curahdami seperti acara perayaan Kelurahan.

Pada bulan Juli dan Nopember 2008 ini masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur putaran I dan II secara langsung. Walaupun tingkat partisipasinya lebih rendah dari pada pilihan kepala Kelurahan, namun hampir 73 % dari daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah proggres demokrasi yang cukup signifikan di Kelurahan Curahdami

Setelah proses-proses politik selesai, situasi Kelurahan kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi Kelurahan berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.

Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Kelurahan namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi Kelurahan seperti Lembaga Permusyawaratan Masyarakat Kelurahan maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Kelurahan Curahdami mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.

Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Kelurahan Curahdami mempunyai dinamika politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Kelurahan Curahdami kurang mempunyai gairah, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.

Berkaitan dengan letaknya yang berada  di daerah Tapal Kuda suasana budaya masyarakat Madura sangat terasa di Kelurahan Curahdami Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Madura. Hal ini tergambar budaya dan kehidupan sosial sehari-hari, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Madura.

Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Kelurahan Curahdami Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Kelurahan Curahdami Tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis ia akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.

Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup berarti di Kelurahan Curahdami Isu-isu terkait tema ini, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronis yang membahayakan masyarat dan sosial.

Lewat ke baris perkakas